Budaya – Sastra
PERKASANUSANTARA.COM – Membaca puisi berjudul “Aku Masih Terus Berguru” karya Eddy R Yusuf, yang juga pewarta di portal berita Perkasanusantara.com ini, tidak lebih dapat dipahami sebagai apresiasi di mana pada tanggal 22 April adalah saat dilahirkannya lembaga pemberitaan dimaksud.
Membaca adalah satu tindakan komunikasi, yaitu suatu proses berpikir yang melibatkan ide, kenyataan dan perasaan yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca melalui perantara lambang-lambang bahasa.
Definisi lain tentang membaca adalah suatu proses pembentukan dan pemberian makna menerusi interaksi antara pembaca dengan bahan yang dibaca ataupun proses membina jembatan antara bahan yang dibaca dengan pengalaman latar si pembaca.
Berkaitan dengan berbagai macam definisi membaca tersebut dapatlah disimpulkan bahwa membaca merupakan proses interaktif antara pembaca dengan bahan bacaan untuk memahami pesan dari bahan bacaan secara aktif ke dalam pemahaman pembaca.
Setelah membaca, satu hal yang sebenarnya terbaik untuk dilakukan adalah merekonstruksi hasil baca ke dalam sebuah tulisan. Dengan begitu, pembaca berperan sebagai penulis kedua.
Dengan demikian, literasi sesungguhnya telah berjalan. Pembaca mendapatkan pengetahuan baru dan memberikan pengetahuan baru kepada orang lain.
Sebagai ilustrasi, berikut bait pertama, puisi “Aku Masih Terus Berguru”
/Engkau bukan seusia balita, Melainkan sudah matang di rahim waktu, Maka aku tidak percaya usiamu baru satu digit, Sebab aku menandaimu sebagai guruku, Menghiasi waktu dengan rerimbun aksara, Dengan diksi-diksi terpilih/
Pada bait ini, ada semacam ketidakpercayaan penulis kepada sebuah institusi atau portal berita di mana penulis terlibat di dalamnya. Namun, penulis kemudian memberi pemaknaan bahwa portal berita ini telah matang di rahim waktu atau ia hadir oleh pelaku di baliknya yang sudah matang pengalaman, terkait mengelola sebuah portal berita. Pada larik-larik berikutnya semakin memperjelas eksistensi lembaga, dengan kepiawaian para awaknya dalam penyajian informasi, untuk dibaca sebagai bagian dari pembelajaran di ruang publik.
Pada bait-bait selanjutnya, penulis mengantar pembaca kreasinya pada pengungkapan imajinasi konseptual akan arti penting perjuangan.
Usia lembaga boleh masih balita (di bawah lima tahun), tetapi lembaga ini sudah sedemikian rupa matang menghadapi berbagai macam musim (cobaan). Setidaknya, semua awak pewarta sempat terkejut dengan berpulangnya sang pendiri, Pak Kusman, yang dirasakan sebagai kepergian yang tiba-tiba. Hal ini tergambar pada bait ketiga puisi tersebut:
/Maka, aku bertanya berapa panjang langkah, Berapa lebar bundar penahan musim ekstrim, Di bawah payung itu aku berteduh, Dari terik panas dan serbuan angin puyuh, Dari tekanan godaan dan kegaduhan serta keterbatasan, Dan, aku dapat mengambil inti pesan, Dalam begitu banyak yang belum aku endapkan/
Memaknai metafora yang disampaikan, seperti /Berapa lebar bundar penahan musim ekstrim/ lalu, /Dari tekanan godaan dan kegaduhan serta keterbatasan/, penulis ingin menyampaikan betapa tidak mudah menghadapi begitu ketatnya persaingan, begitu tajam dan tingginya kebutuhan hidup yang senyatanya.
Sebuah imaji konseptual penulis ingin menunjukkan perjuangan jangan sampai surut. Itu disampaikan penulis dengan gaya bahasa sederhana pada bait keempat dari puisi tersebut. /Maka, aku masih akan terus berguru, Tidak peduli hempasan ombak dan jalanan terjal setiap ruas langkahku, Selagi waktu dan kesempatan memberi aku ruang, Aku tiada akan berhenti mencari, Apalah aku ini di tengah luasnya samudera ilmu yang engkau hamparkan, Itu pula yang membuat aku tergagap, Membaca usiamu, Memaknai ketulusanmu, Alfatihah sebait doa untuk keberadaan mu/
Semua itu memang membutuhkan proses, perjuangan dalam pengertian sesungguhnya, sangat membutuhkan waktu yang panjang.
Menuju keberhasilan tidak mungkin dilakukan secara instant (terburu-buru). Eksistensi diri dalam dunia informasi diharuskan melakukan proses yang tiada henti.
Hal ini dimaksudkan agar para awak pewartanya dapat mengambil inti pesan apa yang sering diulang-ulang sampaikan oleh Pak Kusman, bahwa dalam dunia pers militansi pribadi pewarta perkasa sudah harus ada.
“Apatah lagi, perkasa media grup jauh-jauh hari sudah menekankan bahwa “di sinilah para anggotanya belajar dalam filosofi Asah Asih Asuh, setiap awak pewarta terus menerus memperkaya ilmu kepenulisan dengan banyak dialog, diskusi, saling interaksi bila menemukan/mengelola informasi krusial. Hal itu, dimaksudkan untuk menghindari diri dan lembaga dari gesekan dengan pihak lain, utamanya terkait problematika hukum,” nasehat Kusman (almarhum) dalam setiap rapat atau pertemuan rutin/bulanan di markas Redaksi PerkasaNusantara.
Berikut ini puisi utuh, karya Eddy R Yusuf, sebagai apresiasi kepada lembaga pemberitaan PerkasaNusantara.com yang ke empat.

AKU MASIH DAN TERUS BERGURU
Eddy R Yusuf
Engkau bukan seusia balita
Melainkan sudah matang di rahim waktu
Maka aku tidak percaya usiamu baru satu digit
Sebab aku menandaimu sebagai guruku
Menghiasi waktu dengan rerimbun aksara
Dengan diksi-diksi terpilih
Tetapi engkau terus memaksa aku untuk mempercayaimu
Bahwa benar masih berusia sepanjang fajar
Sambil menata suara aku tidak berhenti belajar
Betapa aku belum sepenuhnya memahami
Akan isyarat simbol-simbol perjuangan
Maka, aku bertanya berapa panjang langkah
Berapa lebar bundar penahan musim ekstrim
Di bawah payung itu aku berteduh
Dari terik panas dan serbuan angin puyuh
Dari tekanan godaan dan kegaduhan serta keterbatasan
Dan, aku dapat mengambil inti pesan
Dalam begitu banyak yang belum aku endapkan
Maka, aku masih akan terus berguru
Tidak peduli hempasan ombak dan jalanan terjal setiap ruas langkahku
Selagi waktu dan kesempatan memberi aku ruang
Aku tiada akan berhenti mencari
Apalah aku ini di tengah luasnya samudera ilmu yang engkau hamparkan
Itu pula yang membuat aku tergagap
Membaca usiamu
Memaknai ketulusanmu
Alfatihah sebait doa untuk keberadaan mu
Tangerang, 22 April 2025
#SELAMAT_MENSYUKURI_HARI_KELAHIRAN_YANG_KE_EMPAT
#PORTAL_BERITA_PERKASANUSANTARA.COM





+ There are no comments
Add yours