Artikel Opini
Rasan-rasan Seraya –Sambil Berkhayal — Menikmati Hembusan Sepoi
Oleh Mas Diatmo
Saat menemukan sebait puisi SAAT DAUN BERAYUN-AYUN 2 karya Eddy R Yusuf (Ery) yang ditulis pada 31 Mei 2024, tergerak untuk mengapresiasi karyanya, puisi tersebut sebagai berikut;
SAAT DAUN BERAYUN-AYUN 2
Karya : Eddy R Yusuf (Ery)
Indera pendengaranku menyimak suara lembut
Saat daun berayun-ayun
Tiada angin bertiup
Ia menyampaikan salam dan sholawat
Aku diam merasakan takjub
Tangerang, 31 Mei 2024
Puisi ini mengajak kita untuk merenungi kepekaan inderawi, khususnya pendengaran, terhadap suara-suara yang sering kali terabaikan dalam kesibukan sehari-hari. Bukan sekadar bunyi fisik, suara daun yang berayun tanpa angin menjadi metafora akan pesan ilahiah —suatu keajaiban kecil yang hadir dalam keseharian. Penulis tidak hanya mencatat fenomena, tapi mengangkatnya ke ranah spiritual, menghubungkan alam dengan dimensi ketuhanan.
Tidak adanya angin dalam puisi ini memperkuat kesan keajaiban. Biasanya lho, daun akan bergoyang karena angin, namun di sini beda, ia berayun sendiri. Hal ini bisa dimaknai sebagai simbol kehadiran hal yang bersifat gaib atau pesan dari yang tak kasat mata. Dalam konteks religius, bisa ditafsirkan sebagai tanda bahwa alam pun berdzikir, menyampaikan salam dan sholawat sebagai bentuk kesalehan semesta.
Pemilihan kata “salam dan sholawat” sangat signifikan. Di dalam Islam, sholawat merupakan bentuk cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Ketika daun digambarkan menyampaikannya, seolah ada penegasan bahwa alam pun tunduk dan bertasbih. Ini membuka ruang diskusi tentang hubungan manusia dengan lingkungan dalam perspektif spiritual.
Respon penyair dalam “diam merasakan takjub” mencerminkan sikap kontemplatif. Bukan hanya mengagumi secara estetis, tapi juga secara eksistensial. Takjub dalam konteks ini bukan kebingungan, melainkan keterhubungan —perasaan bahwa diri ini kecil namun merupakan bagian dari sesuatu yang besar dan sakral.
Bahasa yang digunakan sangat sederhana, tanpa majas yang rumit atau gaya bahasa yang kompleks. Akan tetapi dalam kesederhanaan justru disinilah letak kekuatannya. Pembaca dari berbagai latar belakang pun dapat mengakses maknanya, sambil tetap membuka ruang tafsir yang mendalam. Ini adalah kekuatan puisi religius yang tidak menggurui, tapi menyentuh nurani.
Dalam era modern yang serba cepat dan digital, puisi ini menjadi pengingat untuk kembali peka pada hal-hal sederhana serta mengajak kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan meresapi kehadiran sesuatu hal yang “mungkin” sering kita abaikan. Ini menjadi semacam ajakan halus untuk mindfulness dalam kerangka spiritualitas Islam.
Dengan harapan semoga di Teras Puisi, puisi ini bisa menjadi pintu masuk untuk banyak topik: hubungan antara seni dan spiritualitas, peran alam dalam ajaran agama, pentingnya kontemplasi terhadap kehidupan modern, hingga tafsir ekoteologis dalam karya sastra. Satu bait karya Bang Ery ini, bukan sekadar puisi, tapi sebagai jendela untuk memandang dunia dan diri sendiri dengan cara yang lebih dalam dan reflektif.
Semoga, rasan-rasan terhadap karya Bang Ery memberikan manfaat bagi penikmat/pembaca karya sastra khususnya puisi.
Salam Sastra, Salam Budaya
Editor: Eddy Yusuf





+ There are no comments
Add yours