Apresiasi Puisi Karya Eddy Yusuf Oleh Bapak Yusman Nasution

Perkasanusantara.com – Berikut adalah karya sastra puisi Eddy Yusuf yang sederhana. Namun, memperoleh perhatian dan diapresiasi dengan luar biasa oleh guru guruku, guru kami, guru kita, bapak Yusman Nasution, yang mengulas dengan indah dan bagusnya, atas karya sederhana itu, selamat mengikuti:

ENTAH MENGAPA TERINGAT AYAH DAN IBU

Ketulusan Hati Seorang Anak pada Orang Tua yang Telah tiada – Ungkapan perasaan Eddy R Yusuf

Puisi berjudul ENTAH MENGAPA karya Eddy R Yusuf, yang biasa dikenal dengan nama pena Ery di laman Selembar Puisi sekilas terlihat dan terbaca biasa saja. Dikemas dengan diksi yang sederhana dan mudah dicerna siapa saja yang membacanya. Namun, jika dicerna lebih intens, puisi ini memiliki makna dan kesan yang dalam, terutama bagi penciptanya, yaitu Eddy R Yusuf (Ery).

Puisi Entah Mengapa ini merupakan ungkapan perasaan dan kerinduan Erry pada kedua orang tuanya yang telah tiada. Kecintaan yang mendalam pada kedua orang tuanya itu yang selalu dikiriminya bacaan surat alfatihah sebagai nutrisi amaliah yang memberi kedamaian kedua orang tuanya di alam barzah.

Puisi Entah Mengapa ini mengungkapkan pula keresahan dan kegelisahan Erry dalam menyusuri jalan kehidupannya. Hal itu terungkap pada bait pertama puisi ini: //entah mengapa/tiba-tiba air mata mengembang/membuat kabur pengelihatanku//. Pada larik pertama bait pertama puisi ini dapat kita rasakan kebingungan Erry yang tidak tahu (entah mengapa) yang diikuti larik kedua tiba-tiba air mata mengembang yang menyiratkan rasa sedih. Duka lara yang terpendam di hati yang mengakibatkan membuat kabur penglihatan ku (Ery). Larik ketiga ini mengungkapkan adanya kegamangan yang dirasakan Ery. Sebuah kegundahgulanaan dalam jiwanya.

Pada bait kedua puisi inilah terungkap rasa rindu yang terpendam dalam hati Ery pada kedua orang tuanya itu. //sedetik lalu/aku teringat pada ayah ibu/kerinduan aku ikuti melafazkan alfatihah/seketika langit menetes dan bumi basah//. Begitulah Erry mengungkapkan kerinduannya pada ayah dan ibunya yang telah damai di alam baka. Untuk melepas kerinduan itu Ery melafazkan alfatihah sebagai bekal dan doa bagi kedua orang tuanya dalam perjalanan menuju kekekalan kelak di yaumil akhir.

Pada larik keempat bait kedua puisinya itu, /seketika langit menetes dan bumi basah/, Ery menampilkan metafora yang indah sebagai sebuah perumpamaan penuntasan kesedihannya dengan tangis. Langit menetes bisa dimaknai meledaknya rasa sedih dalam kerinduan brrupa tangis dan bumi basah air mata yang mengambang dan membasahi mata dan pipi.

 

Keresahan hati Ery diungkapkannya pada bait ketiga puisinya ini.

 

entah mengapa

dadaku tiba-tiba terhenyak sesak

membuat ingatan senjaku

melanglang pada ketinggian

 

Pada bait ketiga ini, keresahan Ery tertumpu pada hidupnya sendiri. Usia yang mulai senja yang tidak bisa kita hindari sejalan dengan waktu yang bergulir. Keresahan itu yang diungkapkannya dengan metafora entah mengapa/dadaku tiba-tiba terhenyak sesak/ seakan ada sesuatu yang mengganjal bersama berjalannya waktu dan usia yang semakin lanjut. Tetapi kondisi itu mendorong Ery sadar akan kondisinya kini /membuat ingatan senjaku/melanglang pada ketinggian//. Larik-larik itu dapat dimaknai situasi Ery yang semakin senja yang sudah semakin lanjut usianya. Mungkin kondisi ini yang meresahkan Ery.

 

Keresahan Ery itu diungkapkannya pada bait keempat puisinya ini:

 

sejauh ini

rasanya belum juga mampu memaknai hidup

bayangan dosa-dosa silam

masih saja menandai setiap sujudku

 

Ketulusan Ery mengungkapkan betapa dirinya belum bisa memaknai hidup yang berarti hari-harinya berlalu tanpa arti yang seharusnya memberi manfaat bagi dirinya dan orang banyak. Bahkan ia selalu saja teringat akan ketidaksempurnaan dirinya yang masih berbuat dosa. Untungnya bayangan dosa-dosa silam itu masih saja menandai sujudku, yang berarti Ery menyesali telah berbuat dosa dan memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa dalam sujudnya. Idiom sujudku pada baris keempat bait keempat ini bermakna sholat, penyerahan diri pada Yang Maha Kuasa yang dilakukan Ery sebaik hamba ciptaan Sang Khalik.

Dari perjalanan hidup yang bergelimang dosa dan penyerahan diri melalui sholat (sujudku), timbullah kesadaran Ery seperti yang diungkapkannya dalam bait kelima puisinya ini:

 

masya Allah

air mata tumpah ruah

astaghfirullah ya Allah

jangan bebani jiwa renta ini,

janganlah

jauhkan penghalang

permohonan ampunan

 

Dengan mengagungkan kebesaran Allah SWT dengan ucapan masya Allah, Ery pun melengkapi kesadarannya itu dengan penyesalan yang dalam sehingga air matanya pun tumpah ruah yang disertai dengan istighfar astaghfirullah ya Allah sebagai ungkapan mohon pengampunan dari segala kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dibuat. Permohonan ampun pada Yang Maha Kuasa itu disadari Ery karena kerentannya sudah tidak kuat lagi memikul nista dan dosa itu //jangan bebani jiwa renta ini,/jangan/jauhkan penghalang/permohonan ampunan//. Begitulah tulus dan ikhlas nya Ery memohon ampun pada Tuhan, Allah SWT.

Penyesalan telah bergelimang dosa itu menuntun Ery untuk terus memohon pengampunan pada Allah SWT sebagaiman diungkapkannya pada bait keenam yang merupakan bait terakhir puisi Entah Mengapa ini:

 

tetapi aku tak ingin berhenti

memohon dan terus memohon

sebelum ampunan diri mewujud kunci

bagi membuka pintu surga Illahi

 

Bait keenam ini mengungkapkan sikap Ery yang bersungguh-sungguh untuk bertobat dengan terus memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa. Kesungguhan tekad itu dinyatakan Ery … aku tak ingin berhenti/memohon dan terus memohon//. Inilah sebuah pembuktian penyerahan diri pada Sang Pencipta yang Maha Pengampun. Sampai kapan permohonan ampun itu dilakukan Ery? Tenggat waktunya adalah sampai … mewujud kunci/ bagi membuka pintu surga//.

Tentu Ery sadar bahwa akhir perjalanan hidup yang diidam-idamkan setiap insan adalah kelak dalam keabadian kehidupan nanti dapat dinikmati di surga jannatun naim. Tempat yang indah dan damai.

Begitulah sekilas yang bisa saya tangkap dari puisi Entah Mengapa karya Eddy R Yusuf yang biasa kuta kenal dengan nama pena Ery itu. Puisi ini menyampaikan pesan moral jangan malu mengakui kesalahan (dosa) dan memohon ampunilah pada Yang Maha Kuasa dari dosa-dosa itu. Selain itu, Ery juga berpesan selalulah ingat pada kedua orang tua walaupun mereka sudah tiada. Selalulah berdoa dan mengirim alfatihah bagi arwah keduanya. Semoga pesan itu bisa kita lakukan.

Tangerang Selatan, 18 Juni 2025

Foto Pak Yusman Nasution, saya kutip dari akun FB beliau.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours