Cinta Karena Allah

Artikel

Cinta Karena Allah

Perkasanusantara.com – Kecintaan yang hakiki yang didasarkan karena Allah ialah apabila seseorang itu tidaklah mencintai orang lain itu karena pribadi (zat) nya orang itu, tetapi semata-mata karena mengingat keuntungan-keuntungannya yang akan diperoleh untuk keakhiratan dari sahabatnya itu.

Misalnya, seseorang yang mencintai gurunya sebab dengan guru itu ia dapat memperoleh perantara guna menghasilkan ilmu pengetahuan, serta memperbaiki amalannya, sedang tujuan utamanya ialah bahwa dengan ilmu pengetahuan dan amalan yang dilakukannya itu hanyalah untuk keakhiratan belaka.

Orang yang sedemikian inilah yang termasuk dalam golongan para pencinta melulu untuk mencari keridhaan Allah saja.

Demikian pula seseorang yang mencintai muridnya sebab pada muridnya itulah ia dapat mencurahkan isi pengetahuannya dan dengan perantaraan murid itu pula ya dapat memperoleh derajat atau tingkat sebagai pengajar atau guru.

Guru yang semacam inilah yang juga disebut mencintai orang lain untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala.

Bahkan seseorang yang suka menyedekahkan hartanya karena Allah bukan untuk pamer atau ria suka mengumpulkan tamu-tamunya lalu menjamu mereka dengan berbagai makanan yang lezat-lezat serta yang aneh masakannya yang dilakukan semata-mata karena untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Selain itu termasuk pula dalam golongan ini seseorang yang mencintai kepada seseorang yang suka menyampaikan sedekah atau zakatnya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Jadi iya juga mencintai karena Allah.

Demikian pula seseorang yang mencintai pada pelayannya yang membantu dirinya untuk mencucikan pakaian atau membersihkan lantai rumahnya atau memasakkan makanannya kemudian dengan demikian tadi ia sendiri dapat penuh mencurahkan ilmu pengetahuan serta amalan salehnya, sedang maksudnya menggunakan pelayan dengan pekerjaan tadi adalah untuk terus-menerus dapat beribadat, itu pun orang yang mencintai karena Allah juga.

Apabila seseorang itu menikahi seorang wanita yang shalih, yang dengan demikian itu dimaksudkan agar dirinya dapat terhindar dari dan terjaga dari godaan setan dan pula guna menjaga agamanya atau agar nantinya dapat dikaruniai oleh Allah subhanahu wa ta’ala seorang anak yang sholeh atau seseorang yang mencintai istrinya karena istri itulah yang merupakan perantara atau alat kepada tujuan-tujuan keagamaan, maka kedua macam orang itupun termasuk mencintai karena Allah.

Juga seseorang yang dalam kalbunya ada rasa kecintaan kepada Allah dan dunia, seperti seseorang yang mencintai seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepadanya, baik agama atau yang lainnya, lalu ia memberikan kecukupan, sehingga tidak lagi memikirkan keperluan-keperluan dalam hal dunia, umpama dengan menggembirakannya dengan jalan memberikan sebagian hartanya, maka orang ini pun namanya mencintai karena Allah Ta’ala.

Memang, bukan sekali-kali yang merupakan syarat mencintai Allah itu harus tidak mencintai harta dunia, sehingga bagiannya dari keduniaan itu ditinggalkannya sama sekali, itu tidak, sebab isi doa yang diperintah oleh para nabi shalawatullahi alaihim itu adalah mencakup antara kepentingan dunia dan akhirat, sebagaimana yang tertera dalam ayat Alquran, Surat AlBaqarah 201:

“Ya Tuhan kami, berilah kebaikan pada kami di dunia dan kebaikan pula di akhirat”.

Juga dalam hadits disebutkan suatu doa yang berbunyi:

“Ya Allah, sesungguhnya saya memohonkan padaMu suatu kerahmatan yang dengannya itu dapatlah saya memperoleh keutamaan kemuliaanMu di dunia dan akhirat”. Diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Demikianlah arti yang sebenarnya dalam persoalan mencintai Allah dan cinta-mencintai karenaNya.

Selanjutnya perlu kita maklumi, bahwa apabila kecintaan karena Allah sudah benar-benar kuat dalam jiwa seseorang, maka itulah yang akan membawa saling harga menghargai, suka menolong dan dermawan untuk membelanjakan segala yang dimiliki, baik jiwa, harta dan ucapan yang berupa nasehat yang baik dan terpuji.

Perbedaan tiap-tiap manusia dalam hal selisihnya perkara kecintaan sebagaimana yang diuraikan di atas itu adalah tergantung pada besar kecilnya kesadaran dalam menginsafi arti kecintaan pada Allah ta’ala itu sendiri, hanya saja kadang-kadang seseorang itu akan menerima suatu ujian dalam menghadapi masalah-masalah yang bertalian dengan keuntungan atau bagian dari dirinya sendiri, bahkan kadang-kadang ini dapatlah ia memenangkannya, sehingga untuk dirinya sendiri tidak ada bagian yang diperolehnya. Adakalanya juga bagian itu semua diperoleh oleh orang yang dicintai itu semata-mata.

Sementara itu ada pula kecintaan yang dilakukan dengan cara meninggalkan sebagian dari haknya dan hanya sebagian saja yang diambilnya, umpamanya seseorang yang dengan rela hati memberikan sebagian dari harta miliknya sendiri kepada kekasihnya, baik separuh sepertiga atau sepersepuluhnya.

Dari kadar banyak yang diberikannya itulah dapat dinilai betapa besarnya atau betapa tinggi nilai kecintaannya itu, sebab tentulah tidak dapat mengerti tingkat apa yang dicintai itu melainkan dengan mengorbankan sesuatu yang dicintainya pula, yakni yang ditinggalkan sebagai bandingannya.

(sumber: Ihya Ulumuddin – Imam Alghazali)

Editor: Eddy Yusuf

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours