Dorongan Untuk Mencapai Budi Pekerti yang Baik

Syiar

Dorongan untuk mencapai budi pekerti yang baik 

Perkasanusantara.com – Kita telah memaklumi bahwa kebaikan budi pekerti itu ialah pertengahan antara kekuatan akal pikiran dan kesempurnaan hikmat atau kebijaksanaan dengan kekuatan kemarahan dan kesahwatan, juga bahwa kedua sifat ini wajib suka mengikuti jalannya akal pikiran serta sesuai dengan syariat agama. Cara pertengahan itu dapat diperoleh dengan jalan dua hal yaitu :

Pertama : Dengan melimpahnya karunia ilahiyah dan kesempurnaan fitrah kejadian. Dengan kata lain bahwa manusia itu sejak diciptakan oleh Allah Ta’ala dilimpahi karunia kesempurnaan sejarah lahirnya lalu ditakdirkan menjadi manusia yang berbudi pekerti baik.

Ia dapat mencukupi menurut batasnya masing-masing kepada sifat kemarahan dan kesyahwatan dan keduanya ini dapat dijadikan pertengahan dan suka dibimbing oleh akal pikiran serta syariat.

Kedua : mengusahakan akhlak-akhlak ini dengan jalan bersungguh-sungguh dalam melatih jiwanya. Maksudnya ialah melatih jiwa tadi ke arah pekerjaan-pekerjaan yang membawanya ke tujuan budi pekerti yang dikehendaki itu. Misalnya seseorang yang ingin memiliki sifat kedermawanan, maka jalannya supaya memaksa jiwanya agar senantiasa melakukan apa saja yang menjadikan dirinya sebagai seorang dermawan dengan jalan membelanjakan harta.

Jadi ia tidak berhenti-henti menyuruh jiwanya sendiri untuk berbuat sedemikian itu dan ini dilangsungkan terus dengan paksaan dan kegiatan yang sangat sehingga akhirnya nanti akan menjadi tabiat baginya dan akan dirasakan mudah dan ringan berbelanja.

Jika lah sudah demikian tercapailah tujuannya untuk menjadi seorang dermawan begitu pula halnya seseorang yang ingin memiliki sifat merendah diri, sedangkan dia pada saat itu merasa mempunyai sikap congkak dan takabur. Jalannya ialah supaya ia senantiasa mengikuti kelakuan-kelakuan orang-orang yang ahli dalam hal ini sampai waktu yang amat lama sekali.

Ia harus benar-benar bersungguh-sungguh dan memaksa jiwanya untuk tetap merendahkan dirinya, sehingga kebiasaan itu akhirnya menjadi sebuah tabiat. Jikalau ini sudah terlaksana dengan ringan tanpa dipaksa paksakan lagi, maka tercapailah tujuannya dan ia adalah seorang yang bersifat merendahkan diri. Dengan cara sebagaimana di atas itulah dapat dihasilkannya semua akhlak yang terpuji menurut pandangan syariat.

Tujuannya ialah agar perbuatan yang timbul dari akhlak baik tadi dirasakan sebagai suatu kelezatan dan kenikmatan bagi yang melakukannya. Maka dari itu, seorang dermawan akan merasa lezat dalam mengeluarkan hartanya, jadi berbeda sekali dengan orang-orang yang mengeluarkannya dengan perasaan terpaksa atau didorong oleh suatu hal yang dianggap menguntungkan dirinya di belakang nanti.

Seorang yang tawadhu’ akan merasa lezat dengan sikap merendahkan dirinya. Akhlak yang luhur yang dianggap mulia oleh agama itu tidak mungkin akan dapat meresap dalam jiwa seseorang, selama orang ini tidak membiasakan jiwanya beradat istiadat yang baik-baik itu dan selama ia belum suka meninggalkan kelakuan-kelakuan yang jahat dan keji dan juga selama ia tidak mengekalkannya sampai terlatih benar-benar, sebagai latihan yang dilaksanakan orang yang sangat rindu kepada perbuatan-perbuatan yang baik tadi, sehingga sungguh-sungguh dapat merasakan kenikmatan dalam menunaikannya.

Jikalau ini sudah dapat dicapai maka pastilah orang tadi akan membenci perbuatan-perbuatan yang buruk dan akan merasa tersiksa dan hatinya merana sekali di waktu melihat orang lain melakukannya apalagi kalau ia dipaksa untuk melakukannya sendiri.

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Dijadikanlah kegembiraan hatiku itu di waktu bersembahyang”.

Perlu sekali disadari benar-benar, bahwa apabila ibadat-ibadat atau meninggalkan larangan-larangan agama itu dilakukannya dengan sebab keadaan terpaksa ataupun karena perasaan amat berat dalam jiwa maka itulah sebagai tanda kekurangan seseorang dan oleh karenanya maka belumlah orang itu akan dapat mencapai kesempurnaan kebahagiaan dengan apa apa yang dilakukan tadi.

Resapkanlah firman Allah ta’ala ini, yang artinya: “Sesungguhnya salat itu dirasakan berat sekali, melainkan bagi orang-orang yang khusyu’ “. Q.S. Al-Baqarah – 45.

Selanjutnya perlu lagi diketahui, bahwa untuk memperoleh kebahagiaan yang dijanjikan dalam melakukan budi pekerti yang baik itu, tidaklah cukup dengan hanya merasakan kelezatan taat dan membenci kemaksiatan dalam sebagian waktu atau beberapa waktu tetapi hendaklah hal itu dilakukan secara terus-menerus langsung dan dikekalkan selama-lamanya, bahkan selama hayat masih dikandung badan.

Malahan belum dianggap sesuai jikalau puncak dari salat itu hanya sampai pada batas sebagai kegembiraan jiwa atau hanya merasa lezat di waktu melakukannya saja, sebab ibadat itu haruslah menimbulkan berbagai-bagai keajaiban dalam jiwa yang lebih dari itu.

Cobalah kita lihat dahulu seorang penjudi yang sudah bangkrut, kadang-kadang ia dapat memiliki rasa gembira dan lezat serta perasaan-perasaan lain yang belum tentu dapat dirasakan oleh manusia tanpa melakukan perjudian padahal perjudian itu sebenarnya adalah yang merampas seluruh harta bendanya, merobohkan rumah tangganya dan mengakibatkan orang tadi menjadi miskin dan hina. Namun demikian, anehnya orang yang berjudi itu masih tetap gembira dan merasa memperoleh kelezatan yang tiada taranya. Hal yang sedemikian ini tentu saja disebabkan ia sangat lama berkecimpung di dalam perjudian dan telah mengeluarkan harta yang sebanyak-banyaknya dan dalam waktu yang sudah cukup lama.

Perbuatan itu telah mendarah daging dalam jiwa titik lihatlah pula halnya seorang yang gemar bermain-main dengan burung merpati ia kadang-kadang sampai sepanjang hari di bawah teriknya matahari, berdiri di atas kedua kakinya, tetapi sekalipun demikian ia tidak merasakan kesakitannya sama sekali, sebab mungkin dia merasa terhibur dengan banyaknya burung-burung yang berterbangan di atasnya, gerakan-gerakannya dan cara bersenda guraunya.

Semua itu adalah akibat atau hasil dari suatu adat atau kebiasaan yang dilakukannya dengan tanpa putus sama sekali yakni begitu itulah yang merupakan karena sepanjang masa secara terus-menerus, lagi pula hanya itulah yang disaksikan di antara kawan-kawan sepe pergaulan.

Jikalau menurut kebiasaannya jiwa itu dapat menikmati hal-hal yang batil dan dapat condong serta gembira untuk melakukannya maka mengapalah ia tidak dapat menikmati hal-hal yang hak dan benar, sekiranya ini juga dilakukan dalam waktu yang cukup lama dan dengan secara terus-menerus melakukannya itu.

Bahkan jikalau kita pikirkan dalam-dalam bahwa kecondongan jiwa pada kelakuan-kelakuan yang buruk sebagaimana di atas itu sebenarnya adalah keluar dari tabiat yang wajar sama halnya dengan orang yang condong atau gemar makan tanah liat mungkin sekali yang sedemikian ini akan menjadi kebiasaan bagi sebagian manusia, sekiranya dilatihnya secara terus-menerus.

Adapun kecondongan manusia kepada kenikmatan, kecintaan kepada Allah subhanahu wa Ta’ala bermakrifat serta beribadat kepadanya itu adalah sebagai kecondongannya pada makan dan minum sebab memang inilah yang merupakan kehendak yang wajar dari tabiat hati titik condong kepada kebenaran adalah perintah Rabbaniah, sedang condong kepada kesehatan yang jahat adalah amat menganehkan dan bahkan amat bertentangan kepada tabiatnya semula menurut dzatnya..

Bukankah makanan hati itu adalah kenikmatan, kemakrifatan serta kecintaan kepada Allah subhanahu wa Ta’ala. Jadi kalau seseorang itu sudah beralih ke arah lain dan kemudian menyukai sesuatu yang bertentangan dengan tabiat aslinya, maka hal yang demikian itu tentulah terjadinya karena adanya suatu penyakit dalam jiwanya itu.

 

Sumber :

Ihya Ulumuddin (Imam  Alghazali)

Editor: Eddy Yusuf

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours