Perkasanusantara.com – Tangerang – Kita, sama-sama berempati atas musibah bencana di sejumlah besar wilayah Sumatera, bil khusus kampung halaman, kampung kelahiran saya di Aceh Timur dan Aceh Tamiang.
Kita, tentu saja sangat merasakan betapa saat ini suasana duka menyelimuti saudara kita sebangsa. Bergumpal pikiran bergelayut atas situasi yang datangnya begitu cepat, niscaya diikuti kecemasan dengan berbagai pertanyaan memenuhi hati para korban yang terdampak.
Kecuali doa yang terus mengalir, bantuan kemanusiaan mulai berdatangan. Alhamdulillah dari sejumlah pengurus lingkungan di Bojong Nangka, Kelapa Dua, Tangerang, Banten pun turut bergerak untuk maksud yang sama. Semoga Allah SWT meridhoi niat mulia sahabat pengurus dan warga semua.
Kebisaan saya antara lain menulis narasi seni sastra puisi, setidaknya ini merupakan secuil empati simpati saya, pada kerabat sahabat di sana, dengan cara ini tidak pun banyak yang diharapkan selain memperkuat mental diri sendiri dan yang berkenan menyimaknya.
PEMANDANGAN YANG TAK SEINDAH ITU LAGI
Eddy R Yusuf
aku kirimkan gambar kota kita
untukmu sahabatku
Kuala Simpang yang membelah sungai Tamiang
Kota Lintang tempat kita pernah bertemu
mendirikan sholat fardhu di masjidnya
saat ini, paska banjir bandang
yang dahsyat
semuanya tak seperti dahulu lagi
aku kabarkan lembar demi lembar
cerita luka tentang pedalaman kampung kita
sahabatku, engkau akan membiarkan air matamu
jatuh menyelusuri keriput pipi
kota yang sudah puluhan tahun ditinggalkan
kini tiada lagi menyisakan romantika
di tempat kita pernah duduk menikmati petang
di sepanjang mata memandang
hanya lumpur dan bangunan hancur
aku ingin mengajakmu berkemas
dan kita pulang
memberikan bantuan kemanusiaan
atau turut membersihkan surau-surau
yang bangunannya utuh dilindungi Allah
tidak mengalami kerusakan
padahal kita tahu gelombang air
begitu besar dan keras
menerabas perumahan di sekitarnya
menghancurkan ladang-ladang kecil
lihatlah betapa kayu-kayu dari pembalakan liar
menumpuk di tepian sungai Tamiang
di antara tumpukan itu
masih terdengar suara-suara orang menjerit, suara-suara meminta pertolongan pada setiap malam turun
aku meneteskan air mata
saat menulis “pesan koma” ini untukmu
kita pasti tidak akan mampu menahan tangisan
apalagi sekadar tersenyum
terlalu banyak cerita perih
dari satu gambar saja
begitu tumpah empati kita kepada sahabat kerabat di sana
kita bukan tidak ingin ke sana
sejatinya saat ini kita telah pun renta
Tangerang, 7 Desember 2025
Editor : Eddy Yusuf
Foto : Istimewa





+ There are no comments
Add yours