Abraham Garuda Laksono, BIT.: Sosialisasi Bahaya LGBT Harus Berkelanjutan

Foto: Tri Yugo

Perkasanusantara.com – Tangerang – Tepatnya, pada hari Jum’at tanggal 13 Februari 2026, di balai Rukun Warga 013 Perumahan Dasana Indah, Bojong Nangka, Kelapa Dua, Tangerang diadakan Sosialisasi Bahaya LGBT.

Dengan mengusung Tema: “Memerangi Bahaya Latent LGBT Dengan Pendekatan Multidisiplin, Dialog Intensif dan Berkelanjutan”, sosialisasi tersebut berlangsung menarik.

Lebih menarik lagi dengan kehadiran Abraham Garuda Laksono, BIT., anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Banten.

Langsung saja, Panitia mendaulat beliau untuk duduk di panggung sebagai Nara sumber.

Beliau mengapresiasi undangan  dari Panitia. Bahkan bagusnya, beliau mengikuti sosialisasi hingga selesai. Sadar atau tidak sadar, beliau tahu persis bahwa memang demikianlah seharusnya. Apabila kita mengikuti sebuah pertemuan, seperti seminar, sosialisasi, diskusi, maka kita harus ikuti hingga akhir, biasanya beberapa saat sebelum berakhirnya acara tersebut kita akan memperoleh informasi paling penting, bermanfaat.

Abraham mengapresiasi dengan mengucapkan terima kasih atas undangan dari Ketua RW. 013 Pak Eddy Yusuf, yang dalam hal ini pelaksana kegiatan tersebut.

“Terima kasih banyak telah mengundang saya, atas ide Bapak yang luar biasa ini, harapan saya sosialisasi ini menjadi pemantik dan teman-teman pengurus Rukun Warga wilayah Bojong Nangka lainnya, untuk melakukan hal yang sama dan bahkan buka hanya di Bojong Nangka saja, tetapi di Provinsi Banten supaya tertular, bergulir mengadakan sosialisasi seperti ini juga,” ungkap Abraham Garuda Laksono BIT, mengawali sambutannya.

Diteruskannya, jadi, kita bisa melindungi anak-anak kita jadi pengaruh-pengaruh buruk dan juga pengaruh-pengaruh paham radikalisme dari barat.

“Bapak ibu jika pernah mengikuti dan baca berita beberapa waktu lalu ada di Jakarta, akibat pengaruh Barat dari ide fasisme, yang akhirnya anak tersebut membom mushola sekolahnya sendiri,” ujar Abraham.

Dilanjutkannya, oleh sebab itu marilah kita berikan perhatian penuh pada anak-anak kita , dan jangan kita sikapi dengan keras bila menemukan perubahan perilaku, yang mana hanya akan membuat mereka malah menjadi lebih jauh.

“Tetapi kita dekati dengan hati yang lembut, maka dengan begitu anak-anak kita menjadi generasi penerus yang baik, berbakti kepada orang tua dan sumberdaya potensi yang akan menjadi generasi yang menciptakan Indonesia emas,” jelas Abraham Garuda Laksono.

Sebelumnya, Lurah Kelurahan Bojong Nangka, Elvine Pelestine yang berhalangan hadir, diwakilkan oleh Sekretaris Lurah Kelurahan Bojong Alek Gunawan, SE., menyambut baik kegiatan sosialisasi bahaya LGBT ini, sekaligus menyampaikan permohonan maaf pak Lurah tidak dapat hadir karena satu urusan.

“Kami, pihak kelurahan, sangat menghargai kegiatan sosialisasi seperti ini, khususnya LGBT yang merupakan inisiatif untuk meminimalisir dampak negatifnya di tengah-tengah pergaulan masyarakat,” ujar Alek Gunawan, yang hadir bersama Ketua LPMK Abdullah Bawazier dan Kasie Nur.

Foto: Tri Yugo

Dilanjutkannya, sosialisasi bahaya LGBT ini, seyogyanya terus bergulir, sebagaimana tema yang diusung,  agar dengan begitu kita dapat menghindari berbagai dampak yang antara lain,  dampak bagi kesehatan, dampak bagi sosial, dampak bagi pendidikan, dan dampak bagi keamanan.

“Kita, semua tokoh masyarakat, hendaknya melibatkan diri untuk mengambil peran bagi menyelamatkan generasi muda yang akhir-akhir ini tidak bisa tidak, terus dan akan terus terancam dengan kehadiran media sosial, media informasi teknologi, yang berisi informasi terbuka, yang jika ditelan begitu saja oleh anak-anak, berakibat buruk bagi perkembangan paikososialnya,” urai Alek.

Pada kesempatan itu Alek juga menyampaikan sejumlah agenda atau program pemerintah untuk menjadi perhatian masyarakat semua.

Foto: Tri Yugo

Dari unsur Kesehatan, hadir pihak Puskesmas Bojong Nangka, dokter Yulia Sabrina dan Irfan Sholahuddin, yang antara lain menjelaskan pengertian LGBT.

“LGBT yaitu singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender. Merujuk pada kumpulan perilaku penyimpangan seksual dan identitas gender,” ujar Yulia, mengawali paparannya.

Yulia mengingatkan, bahwa LGBT itu berbahaya dan memang harus diperangi. Berbagai upaya memerangi perilaku menyimpang itu antara lain seperti sosialisasi ini.

“Kaum LGBT mulai menyadari dirinya mempunyai kecenderungan penyimpangan seksual ketika berusia muda. Apalagi jika orangtuanya sejak kanak-kanak sudah memberikan rangsangan penyimpangan, seperti anak laki-laki dipakaikan baju anak perempuan, main boneka-bonekaan dan sebagian besar kawan bermainnya pun perempuan,” ungkap Yulia lebih jauh.

Tokoh Masyarakat, dalam hal ini dari DKM Darussalam yang hadir adalah Husnul Amri, ST., Wakil Ketua DKM Darussalam Dasana Indah Bojong Nangka.

“Sebenarnya, saat ini penyakit media sosial, adalah handphone, sebagai sumber penyakit anak-anak kita,” tukas Amri.

Diteruskannya, bahwa pendekatan yang secara emosional benar-benar dari keluarga, lingkungan paling terdekat, itu yang pertama, setelah itu baru pendekatan lingkungan RT (Rukun Tetangga-red),” ujar Husnul Amri.

“Kita menyadari bahwa anak-anak kita semua tidak akan bisa lepas dari handphone,” ungkapnya.

Ditambahkannya, jadi, memang penyakit utamanya adalah handphone, yang paling berbahaya. Pengawasan yang super ketat kita adalah pada handphone yang tidak pernah lepas dari genggaman anak-anak.

“Mereka melihat biseksual transgender dan lain-lain karena dilihat dari negara lain, LGBT ini sudah enggak ada masalah bagi negara barat itu,” katanya.

Dilanjutkannya, untungnya negara kita tidak. Alhamdulillah, makanya lagi-lagi kita bisa memproteksi anak-anak kita.

“Kami dari lingkungan ke masjid Darussalam mengajak anak-anak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan positif di masjid. Alhamdulillah, kami saat ini sudah bisa merangkul kurang lebih 30 generasi anak muda dari SMP kelas 3 sampai SMA kelas 3, untuk mengikuti seluruh kegiatan, program-program yang dibentuk,” urai Amri lebih jauh.

Ditambahkannya, alhamdulillah beberapa pekan terakhir ini Risma dan remaja Islam masjid yaitu untuk meng-cover dan memprotek hal-hal demikian. Hal-hal terkait LGBT ini memang meresahkan, sangat meresahkan sekali.

Dari unsur Pendidikan, Kapten (Penerbang) Ustadz Wahyudi, yang juga Ketua RW.035 memberikan pokok pikirannya terkait sosialisasi bahaya LGBT di wilayah RW.013

“Menurut data, memang saat ini yang paling besar itu adalah LSL itu sudah di atas 70% dan penyumbang terbesar HIV Aids dan segala jenis penyakit ada,” ujarnya.

Diteruskannya, di Amerika, itu pencemaran terbesar adalah LSL ya 72% yang kedua adalah baru hubungan heteroseksual. Heteroseksual itu yang bener mohon maaf, yang tidak legal. Memang laki-laki dan perempuan tetapi tidak tidak legal, artinya zinah.

“Di dunia penerbangan, saya 20 tahun lebih, saya pernah jadi pilot, saya lulus sekolah pilot thun 1998, saya coba jadi pramugara untuk Haji, membawa jamaah haji selama 4 tahun berturut-turut dan di pramugari haji itu itu sudah ada terindikasi komunikasi yang menyasar pramugara pramugari yang akan dijadikan target, berubah komunitas,” ujar Wahyudi, yang kesemua anaknya lelaki, ada 8 orang, semua ia masukkan ke Pondok Pesantren.

Diteruskannya, informasi dari banyak cerita-cerita ya nauzubillah. Artinya, yang dilakukan oleh mereka, pramugara yang tadinya mungkin laki-laki, lebih banyak bergaul dengan komunitas lelaki, maka kalau pun ada interaksinya dengan pramugari sehingga merasa biasa saja melihat perempuan, dan sudah tidak tertarik sama perempuan lagi, melainkan dengan laki-laki.

“Mudah-mudahan kita bisa mengantisipasi akibat buruk dan tidak berakibat terlalu jauh. Pendidikan kita sangat membutuhkan perhatian lebih untuk terhindar dari perilaku menyimpang,” ujarnya.

Dari sudut pandang Agama, Ustadz Solihin menyampaikan pokok pikirannya. Bahwa, sanksi sosial yang diberikan masyarakat pada umumnya beragam, mulai dari cemoohan dan intoleransi terhadap homoseksual, diskriminasi masyarakat terhadap kaum homoseksual yang berupa tuntutan untuk menjadi heteroseksual dalam seluruh aspek kehidupan melatarbelakangi keputusan sebagian kaum homoseksual untuk tetap menyembunyikan orientasi seksualnya dari masyarakat.

Dari sudut pandang Hukum, Kapolsek Kelapa Dua yang diwakilkan oleh Kanit Reskrim Rofi, menyampaikan pandangannya.

“Merujuk pada draft KUHP baru per tanggal 6 Desember 2022, juga diatur mengenai tindak pidana pencabulan sesama jenis ini dengan memiliki beberapa kategori tertentu serta ancaman hukuman yang lebih berat dibandingkan pengaturan di KUHP lama.

Disebutkan dalam Pasal Pasal 414 ayat (1) bahwa: “Setiap Orang yang melakukan perbuatan cabul terhadap orang lain yang berbeda atau sama jenis kelaminnya”: di depan umum, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) Bulan atau pidana denda paling banyak kategori III; secara paksa dengan Kekerasan atau Ancaman Kekerasan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun; atau yang dipublikasikan sebagai muatan Pornografi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.

“Bila, di lingkungan kita ada informasi terkait penyimpangan seksual, LGBT, maka jangan mengambil inisiatif bertindak sendiri. Tetapi, sebaiknya lebih dahulu melaporkan informasi tersebut kepada Bhabinkamtibmas yang ada di lingkungan kelurahan, biar mereka yang melakukan tindakan sebagaimana mestinya,” pungkas Kanit Reskrim.

Pada acara sosialisasi bahaya LGBT tersebut dihadiri sejumlah tokoh Agama Ustadz Tajuddin Umar, Tokoh masyarakat Ustadz Amir, Ustadz Achmad Khaeruddin, Para Ketua RT.001 SD RT.006 di RW.013, Ketua RW.011 Pak Yunus, Ketua RW.025 Pak Selamet Daryanto, tokoh Senior Pak Agung dan PakAde Rachmanto, Ustadz Sumardi, ustadz Andriyanto dan banyak lagi.

Pewarta/Foto: Tri Yugo DS

Editor: Eddy Yusuf

Foto-foto: Tri Yugo DS

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours